atheis di dalam alqur’an, adakah keterangannya?
saya tertarik dengan suatu pertanyaan seorang cendikiawan. jika umah yang mengaku atheis itu berjumlah milyaran, mengapa para pemberontak agama-agama di dunia itu tidak pernah disebutkan dalam alquran? sementara alqur’an sendiri adalah sempurna, dan didesain untuk umat manusia sampai ahir jaman. mengapa tidak satu cuilpun ayat yang menyinggung tentang keyakinan atheis ini?
eksistensi di sini adalah tentang pengetahuan ada tidaknya tuhan, untuk menjawab bahwa atheis atau karakteristik atheis itu bukan barang baru. penganut atheis selalu mempertanyakan bukti adanya tuhan secara empiris. saya menemukan sebuah blog menarik yang bercerita tentang perdebatan antara professor atheis versus mahasiswa religius:
Profesor mengajak para mahasiswa berpikir dengan logika:
“Adakah di antara kalian yang pernah mendengar Tuhan?” Tak ada yang menjawab.“Adakah di antara kalian yang pernah menyentuh Tuhan?” Lagi-lagi tak ada jawaban
“Atau ada di antara kalian yang pernah melihat Nya?!” Masih tak ada jawaban
“Kalau begitu Tuhan itu tak ada”
Seorang mahasiswa yang religius mengacungkan tangannya, meminta izin untuk bicara.
“Apakah ada yang pernah mendengar otak profesor?” tanyanya pada seisi kelas. Suasana hening.
“Apakah ada yang pernah menyentuh otak profesor?” Suasana tetap hening
“Apakah ada yang pernah melihat otak profesor?”
Karena tak ada yang menjawab maka mahasiswa itu kemudian menyimpulkan,
”Kalau begitu, profesor memang tak punya otak!”Well, saya tak mengerti kenapa banyak kaum teis sering mengandalkan analogi semacam ini (Ada juga yang berargumen dengan mengandalkan analogi rasa sakit akibat tamparan yang tak dapat dilihat leh mata), karena cara untuk menjawab analogi ini sangat mudah.
Berikut lanjutan/revisi kisah di atas menurut versi saya sendiri:
Sang profesor tertawa, mendengar argumen nan polos dari mahasiswa relijius itu.
“Seisi kelas ini memang belum pernah melihat atau menyentuh otak saya, karena masih terbungkus dalam tengkorak dan kulit kepala saya. Tapi bila mereka membedah kepala saya, maka saya jamin 100% bahwa mereka akan melihatnya, sebagaimana yang terjadi secara empiris pada manusia-manusia yang dibedah tengkorak/otaknya.”Mahasiswa religius membalas, “saya juga berani jamin bila bapak mati, bapak akan menemui Tuhan!”
“Oh!” Jawab sang profesor “Pernahkah kau ke alam kematian? Atau setidaknya pernahkan kau menemui orang yang kembali dari alam kematian kemudian kembali ke alam dunia untuk menceritakan kisahnya??“
“Jelas Tidak tapi…” Ucapan mahasiswa itu terpotong.
“Saya juga bisa kasih klaim kalau sampeyan mati, sampeyan bakal ketemu jin tomang berkepala sembilan dan bersenjatakan dildo raksasa untuk menyiksa bokongmu, dan sampeyan gak akan bisa kasih bukti empiris karena sampeyan belom pernah mati! Cobalah berpikir!”
Mulut sang mahasiswa relijius terkunci.
ibarat menggambar ular diberi kaki.. jadilah gambar kadal :D
Untung bukan kadal purba. pada kasus mahasiswa religius tersebut kira-kira analogi tersebut sangat mewakili. Tuhan dengan definisi yang tidak sama antara saya, mahasiswa dan tuan professor atheist tersebut hanya akan menimbulkan debat kusir yang lucu. Tetapi make no sense.
Dalam hal ini, posisi saya adalah bebas tidak dituntut memberikan bukti empiris bahwa tuhan itu exis, posisi mahasiswa dan profesor adalah fiktif alias IOTD. Sebetulnya bagi orang beriman khususnya muslim, percaya eksistensi atau adanya tuhan yakni allah pun belum jaminan bahwa seseorang akan diberi jalan keselamatan. Apalagi yang tidak percaya adanya tuhan karena terjebak dalam kebuntuan pemikirannya.
Jika berbicara masalah Tuhan, maka kaum beragama lebih berhak bicara tentang definisi daripada orang atheis,mengapa? karena atheis sendiri tidak percaya adanya tuhan, atau skeptis agnostic seperti einstein yang diceritakan menjumpai kebuntuan ketika berusaha memikirkan keberadaan tuhan.
Apa yang bisa diharapkan dari orang yang logikanya bisa mempercayai bahwa meja ada karena ada tukang kayu sebagai penciptanya, pada saat yang sama logikanya tidak bisa mempercayai bahwa langit dan bumi (yang lebih rumit) eksis, karena ada Tuhan sebagai penciptanya?
jika akal (logika) adalah ikatan supaya bisa mengikat semua permasalahan secara komprehensif, maka orang tadi ikatannya ada yang kendur……
Itu mungkin alasan paling tepat mengapa tidak satu ayatpun menceritakan tentang atheis dalam kitab-kitab samawi. karena kendurnya akal mereka. karena payah sekali cara akal mereka berfikir
disampaikan kepada fir'aun:
Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal"
Tetapi fir'aun tidak mempergunakan akalnya / logikanya untuk menerima kenyataan tersebut.
2 komentar:
Sejujurnya saya kalau di suruh berfikir tentang yang namanya tuhan seperti yang ada di dalam kitab2 suci agama2 dunia juga buntu... semakin berfikir bukan jawaban malah semakin buntu... Bermula dari kesenangan saya tentang fenomena UFo yang banyak terjadi di dunia...
Kemudian saya mulai membaca tentang astronomi. Saya ketemu berbagai fakta tentang alam semesta yang ternyata sangat luas dan tidak terukur bahkan dengan satuan kecepatan cahaya sekalipun... Saya sering berfikir bahwa tuhan yang ada dalam agama2 tersebut adalah sesosok mahluk yang serupa manusia dalam artian punya kepala, tubuh, tangan dan kaki bahkan punya wajah manusia, karena di beberapa ayat kitab agama2 ada di sebut bahwa manusia di ciptakan sesuai dengan rupa tuhan..
Nah yang bikin buntu pikiran saya, bagaimana si tuhan ini mengatur alam semesta yang luas ini sedangkan sosoknya sendiri bisa digambarkan... Sebagai contoh yang mengganggu pikiran saya adalah bagaimana dia mengatur koloni semut yang ada di dunia ini atau bagaimana dia mengatur mahluk hidup sampai ke level sel kecil seperti amoeba dan bakteri... Bagaimana dia mengatur benda langit yang jumlahnya beratus ribu milyar...
Dan saya juga berfikir bagaimana jika manusia hidup tanpa agama2 yang ada di dunia tanpa harus terkurung dalam dogma ketuhanan agama2 dunia dengan segala macam ritualnya...
Suatu hari saya ketemu artikel tentang Billy Meier yang kemudian menuntun saya untuk menemukan yang namanya spiritual teaching dan bahaya agama2 dunia bagi kemanusiaan di bumi... Dari situ saya sedikit demi sedikit semakin terbuka bahwa sesungguhnya di dalam diri setiap manusialah ada Tuhan dan kita bisa menemukan tuhan di dalam semua mahluk yang ada di planet ini baik itu tumbuhan maupun binatang...
Akhirnya saat ini saya tidak percaya lagi pada agama yang sesungguhnya hanya sumber pertikaian di dunia dimana masing2 pemukanya berlomba2 menghimpun umat dan saling bersaing dengan cara2 yang tidak baik...
Agama digunakan sebagai alat untuk mengontrol manusia untuk sebuah tujuan politik dan kekayaan penguasa...
Saat ini saya lebih bebas dengan menjadi diri sendiri tanpa ikatan agama tanpa harus percaya pada tuhan agama2 samawi yang doyan menumpahkan darah dan menjanjikan bidadari tetapi tidak mampu berbuat untuk krisis lingkungan hidup dan kemanusiaan...
Tuhan yang sejati di dalam diri setiap manusia, bedanya ada yang menyadarinya ada yang tidak... Dan sesungguhnya kehadiran Tuhan yang sesungguhnya ada di mana2... Tidak perlu harus menjadi umat salah satu agama kalo cuma untuk dekat dengan Tuhan...
saya juga berfikir yang sama.. hanya saja agak 'sedikit' berbeda... bila kita memikirkan tuhan... sangat tidak manusiawi... tapi bila kita memikirkan manusia.. sangat tidak tuhanawi.. (wkwkwkwkwk bingung yak?)... let's simply conclude on this way: saya adalah tipe orang yang tidak mau dan tidak suka di doktrin oleh siapapun.. saya coba baca quran, alkitab, baca artikel2 Richard Dawkins dan hitchens (tulisan2nya bagus2) tapi tidak ada yang bisa doktrin saya... karena saya tidak suka debat dan lebih suka melakukan kontempelasi mendalam dibandingkan untuk didoktrin orang lain... tapi apapun itu.... saya percaya tuhan saya percaya anda tidak percaya tuhan ada.. saya lebih senang baca tulisan orang-orang yang melakukan aksi kemanusiaan yang lebih 'real' ketimbang 'memaki' golongan lain yang berbeda keyakinan... tentu saja umat-umat dari agama yang sama dengan saya gak semuanya benar begitu juga umat lain... dan saya juga tidak bisa bilang kalo anda dan umat anda juga benar... (??)... apa yang nabi saya dan sahabat terdekatnya lakukan saya imani dan saya percayai tapi interpretasi asal-asalan yang dibawa oleh orang-orang setelahnya membuat agama yang saya 'nikmati' sekarang ini disalah artikan... tapi siapapun anda saya yakin anda orang Indonesia... 'peduli' untuk kebaikan manusia indonesia?? mari berkarya lebih baik dan lebih manusiawi ketimbang ingin memusnahkan agama manapun.. karena kita semua pasti mati kan sob?? bayangkan besok anda mati dan sekarang anda tidak melakukan apa apa untuk orang yang kelaparan disekitar anda dan angka penderita AIDS yang meninggi (karena anak muda sekarang beda sama jaman dulu kalah tuh seks bebas di Amrik ama di Indonesia tar di masa depan taruhan ama gua)...
peace...
salam damai dari seorang theist (yang ingin anda musnahkan)
Poskan Komentar